Saturday, July 28, 2007

Kisah 57 sen

Seorang gadis kecil berdiri terisak dipintu gereja kecil, ia baru saja ditolak masuk kegereja tersebut karena "sudah terlalu penuh" Seorang pastor lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil menangis. "saya tidak dapat kesekolah minggu" kata si gadis kecil. Melihat penampilan gadis kecil yang kotor dan tidak terurus, sang pastor mengerti sebab penolakan si gadis kecil untuk ke sekolah minggu. Segera dituntunnya gadis kecil itu keruang sekolah minggu digereja dan dicarikannya tempat duduk yang masih kosong.

Sang gadis kecil sangat tergugah perasaannya, sebelum tidur dia selalu memikirkan anak miskin lainnya yang senasib dengannya, yang seolah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Tuhan Yesus.

Sejak saat itu, gadis kecil itu berkawan dengan sang pastor. Dua tahun kemudian si gadis kecil meninggal ditempat tinggalnya didaerah kumuh. Orang tuanya meminta bantuan sang pastor yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sederhana.

Saat pemakaman selesai dan kamar tidur si gadis kecil dirapikan, orang tuanya menemukan sebuah dompet lusuh, kumal dan sobek2. Dompet tersebut kemungkinan adalah dompet yang ditemukan oleh si gadis kecil ditempat sampah. Dalam dompet lusuh tersebut , ditemukan uang sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan yang ditulis oleh gadis kecil itu, isinya "uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil, agar gereja tersebut dapat diperbesar sehingga lebih banyak anak2 bisa datang kesekolah minggu". Selama 2 tahun sejak ia tidak dapat masuk kegereja itu, sigadis kecil menabungkan uangnya sampai sejumlah 57 sen untuk suatu maksud yang sangat mulia.

Ketika sang pastor membaca catatan kecil ini, matanya sembam dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil itu, sang pastor berusaha memotifasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil untuk memperbesar bangunan gereja.

Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Satu surat kabar besar mempublikasikan berita ini terus menerus. Akhirnya seorang pengembang yang membaca berita ini tergerak dan ia menawarkan lokasi di deket gereja kecil seharga 57 sen. Para jemaatpun dengan sukacita dan sukarela memberikan dana dan melakukan pemberitaan, akhirnya bagaikan bola salju yang bergulir, dalam 5 tahun terkumpul dana sebesar $250.000 (pada waktu itu setara dengan emas seberat 1 ton).

Cerita diatas merupakan hasil nyata tindakan "cinta kasih" seorang gadis kecil miskin, yang kekurangan makan dan tidak terawat, tetapi peduli dengan sesamanya yang menderita. Seringkali kita sebagai orang yang diberkati hanya memikirkan kebutuhan diri kita sendiri, kepuasan kita, gengsi kita tanpa pernah berpikir "adakah orang yang tidak bisa makan hari ini?" padahal jelas Tuhan berkati kita untuk bisa jadi saluran berkat bagi orang lain.

Bila kita pergi ke Philadelphia, kita akan melihat "Temple Baptist Church" dengan kapasitas duduk 3.300 orang , "Temple University" tempat beribu2 murid belajar, "Good Samarian Hospital" serta bangunan khusus sekolah minggu yang lengkap dengan beratus2 pengajar untuk memastikan tidak ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di sekolah minggu.

Dalam salah satu ruangan, tampak foto sigadis kecil, yang tabungannya sebesar 57 sen, namun dikumpulkan berdasarkan rasa "cinta kasih" sesama yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapi foto sang pastor baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis kecil miskin itu, yaitu pastor DR. Russel H. Conwell, penulis buku "Acres of Diamonds" ......A true story

"Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga"
Matius 18:4

By. DR. Russel H. Conwell

Read More...

Cinta Yang Tak Pernah Gagal

Dear saudaraku yg terkasih.....

Film ini "Love Never Fails" benar-benar amat menyentuh sekali. kesaksian documentary mengenai seorang aktor singapore yg baru menikah seminggu, dan kemudian aktor ini menderita cancer pada hidungnya.... bisa dibayangkan bagaimana penderitaannya dan juga istrinya ketika itu.

Pertama kali mendengar pernyataan dokter, ia harus menderita cancer. Dia sangat shocked. dia harus menjalani radiation treatment untuk berusaha mematikan cell dari cancer. Tetapi itu juga akan mematikan sel-sel normal. Bahkan setelah radiation, untuk minum saja sesuatu yang sulit baginya. Istrinya berdoa setiap pagi, siang dan malam.

Suatu hari ia ingin makan dan minta tolong kepada istrinya dan ia sangat kesakitan akan hal itu. Istrinya tidak dapat berbuat apa-apa istrinya berdoa, "God you are God. Who can do miracle. Can you help us". Kemudian tiba-tiba dia teringat mengenai ayat mengenai laut merah. Ketika itu, si aktor melihat tangan Tuhan, memegang tangannya, dan membimbingnya mengambil gelas susu yg besar, kemudian dia meminum segelas susu hingga habis tanpa rasa sakit".

Sungguh Kuasa Allah nyata atas doa dari istrinya. Hingga result dari dokter keluar. Hasilnya sangat tidak baik. Karena tumor menjadi ganas dan mulai menyerang mata kirinya dan otaknya. Tumor ini sangat amat aggresive dan dokter menyatakan hidupnya hanya tinggal 3 bulan.

Perlahan demi perlahan, tumor mulai merusak muka dan rambutnya. Si istri sangat takut, bila suaminya menjadi down dan meninggalkan Tuhan. Tetapi suatu hal yg luar biasa. Si suami tetap setia kepada Tuhan, dia mengerti bahwa Tuhan mengasihi dia dan dia percaya akan hal itu bahkan ketika dokter meninggalkan ruangan dia berkata kepada istrinya "Alice, the bible tells us, Our lives are in the hands of God, NOT in the hands of a doctor. It is not God`s will, that i go to heaven yet. I know that God wants me to experience HIM more".

Sungguh pernyataan yg amat luar biasa dengan kondisi wajah yang sudah berantakan dan hidup yang tinggal sebentar lagi. Dia selalu mengatakan "I still believe in God. I believe in our Lord Jesus Christ 100%". Tuhan mengasihi tanpa batas. Dia Allah yang luar biasa dan hebat. Itulah yang menjadi sumber kekuatan baginya. Dia mulai bersaksi atas segala kasih Tuhan kepadanya dengan wajahnya semakin hari kian memburuk didampingi oleh istrinya yang terus setia mendampinginya.

Bagaimana didalam segala kesakitannya, dan penderitaannya untuk tidur, makan dan aktivitas-aktivitas lainnya, dia merasa Tuhan tetap mengasihi dia. Setiap dia mulai putus asa, dia selalu berdoa dan minta kekuatan kepada Tuhan untuk berbicara kepadanya. ketika dia membuka bible, Tuhan berikan kekuatan dengan ayat dari Joshua 1:9 " Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? jangan kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu, menyertai engkau, kemana engkau pergi".

Pernah suatu hari dia bertemu dengan orang yang tidak mengenal Yesus. Dengan wajahnya yang memburuk dan mata yang hampir tidak dapat dibuka. Dia masih menyapa orang itu dan berkata "have you ever heard about Jesus ?" Dengan cancer yang menyerangnya, dengan kesakitan yg dimilikinya, dia tetap selalu mensharekan bahwa "Jesus loves you ?".

Pada tahun 1995 chinese new year mereka kembali ke singapore dan dia bertanya kepada istrinya "Tahukah kamu kenapa aku kembali ke singapore? Kamu pasti berpikir karena saya rindu dengan orang tuaku. Tetapi sebenarnya tidak. Saya kembali untuk memberitahukan bahwa "God Loves those people they don`t know". Istrinya tahu bahwa dia kembali hanya untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadanya.

Sesampainya di singapore, dia berkunjung ke keluarga, saudara dan teman-teman untuk mengatakan bahwa "God loves them. ketika dalam keadaan depress dan jatuh, tetapi ketika saya membaca bible, mendengar tentang word of God, dan berbicara tentang Tuhan, saya sungguh merasa mendapatkan kekuatan." Dia selalu memberitakan injil dengan semangat dan pujian kepada Tuhan. Mengatakan Tuhan tidak pernah berubah. Itu benar.

Dia selalu bersyukur memiliki seorang istri yang baik bahkan dokter yang merawatnya pun begitu heran dengan kekuatan dari istrinya yang dapat melebihi kekuatan tiga suster full time dirumah sakit dalam merawatnya. Dia menjaganya, menyiapkan makanan, membersihkan luka-lukanya, dan hanya tidur di kursi untuk menjaga suaminya.

Suatu kenyataan bahwa "seseorang" yang diberikan Tuhan untuk kita, akan mendampingi kita selamanya. dan ketika bersandar kepada Tuhan, DIA akan berikan kekuatan itu. Ketika istrinya melihat kesehatan suaminya semakin merosot dan wajahnya semakin mengerikan, setiap saat istrinya memeluk dia, dia tidak pernah merasa takut. Istrinya berkata "Setiap saya melihat wajah suami saya, saya melihat Kasih Yesus terpancar dari wajahnya dari dirinya saya melihat Yesus. Setiap saya melihatnya, saya selalu ingin mencium dia. Saya sungguh-sungguh merasakan bahwa perkawinan yang Tuhan berikan sungguh merupakan suatu anugerah Terbesar yang pernah Tuhan berikan yg menyatukan kami menjadi satu. Saya belajar banyak sebagai seorang istri".

Dalam suatu kejadian, ketika si istri melihat suaminya. Dia menangis kepada Yesus dan si istri berkata "Lord, life is in your hands. Lord, Ralph is Yours not mine. You Love him much more than i do. i thank You that You love him. Lord have mercy. please give me strength to trought this moment. Didalam kesusahannya, si istri sering menyanyikan lagu ini yang memberikannya kekuatan untuk terus memuji-muji Tuhan.....

Let us sing to the Lord a new song
Sing to the Lord all the earth
Sing to the Lord
Praise His name
Proclaim His salvation day after day.... hey
Declare His glory among the nations
His marvelous deeds among all peoples
For great is the Lord
and most worthy of praise
He is to be feared above all gods
above all gods

Satu keyakinan dari sang istri bahwa suaminya berada di surga. Dia tidak mati, dia hanya tidur, dan telah bersatu dengan Tuhan. disana tidak ada lagi kesakitan yang ada hanyalah Kasih Tuhan. Satu lagu favorite dari Ralph yg selalu dinyanyikannya :

The Lord is my strength my strength
The Lord is my strength in times of trouble
The Lord is my help my help
The Lord is my help, an ever-present help
The Lord is my refuge my refuge
The Lord is my refuge and my heart is steadfast
God is my strength and my help
Only God Himself is my refuge

Dari kisah diatas kita dapat melihat seorang yg begitu amat mengasihi Yesus bahkan didalam kesakitan, penderitaan dan apapun yang terjadi didalam hidupnya, dia selalu dapat bersyukur dan bersyukur atas segala kebaikan Tuhan. dia selalu meyakini bahwa Tuhan selalu mengasihinya...

Dia menganggap segala penderitaan yg harus dijalaninya, untuk boleh dipakai oleh Tuhan bagi sesamanya. Melalui kesaksian dirinya, banyak orang yang merasa dikuatkan bahkan seluruh keluarganya akhirnya pun menerima Kristus sebagai juru selamat. Nyatalah bahwa "dibalik suatu penderitaan yang berat pun, ada rencana Tuhan yang telah disediakan dan rencana Tuhan amat sangat indah".

Akhir kata, kuatlah selalu didalam Tuhan kita Yesus Kristus. bersyukurlah dan setialah selalu dalam segala keadaan, dalam segala penderitaanmu, karena semua itu hanyalah sementara. jadikanlah semua itu untuk mengerjakan karya Tuhan yg besar sebagai kesaksian yang hidup, dimana anda dan saya dapat membawa jiwa-jiwa kepada Kristus

Salam Kasih Kristus

Read More...

Just Do The Best

Sepenggal cerita menarik berikut tentang seekor serigala dan seekor kelinci dapat menjadi perenungan bagi kita kali ini. Mungkin kita pernah mendengar cerita ini sebelumnya.

Suatu ketika ada seekor serigala yang setiap hari selalu mengejar seekor kelinci. Hal ini selalu terjadi setiap hari terus menerus. Ketika ditanyakan kepada serigala mengapa setiap hari dia mengejar si kelinci dan tidak pernah berhasil menangkapnya, dengan santai si serigala menjawab, " Saya hanya iseng-iseng saja saja. Mau menakut-nakuti kelinci." Namun pada saat ditanyakan kepada si kelinci mengapa setiap hari dia berlari dan tidak pernah tertangkap. Si kelinci menjawab, " Serigala sih enak bilang kalau dia cuma iseng saja, kalau saya tertangkap bagaimana, pasti habis dimakannya. Makanya setiap hari saya berlari dengan sungguh-sungguh untuk menghindari dia."

Cerita ini mengingatkan kita bahwa jika motivasi kita hanya iseng-iseng saja seperti si serigala, maka hasilnya pun akan biasa-biasa saja. Buktinya serigala tidak pernah berhasil menangkap si kelinci. Tapi jika kita memiliki motivasi yang sungguh- sungguh dalam menjalankan apapun, maka hasilnya tentu akan luar biasa. Seperti contoh tadi, si kelinci tidak pernah tertangkap oleh serigala. Kondisi kita sekarang ini ibarat sedang memegang busur panah di tangan. Kemana busur tersebut akan melesat dan seberapa jauh akan melesat semuanya tergantung kita. Hidup kita akan berhadapan dengan banyak pilihan. Nasib kita tidak terjadi karena kebetulan, tapi karena pilihan yang kita buat dan bagaimana kita memotifasi diri kita untuk mencapai pilihan tersebut.

Keputusan dalam membuat pilihan adalah persoalan hidup yang seringkali harus kita hadapi. Apa yang kita alami hari ini adalah karena pilihan yang kita buat hari-hari yang lalu. Pekerjaan kita misalnya. Saat ini kita memiliki tanggungjawab dengan melakukan serangkaian tugas tertentu dalam perusahaan kita. Ada yang melakukannya dengan senang hati, sebagian lain mungkin biasa-biasa saja, sisanya mungkin merasakan beban ketika melakukannya. kita termasuk yang mana?

Kita yang merasakan beban ketika melakukan tugas dan tanggungjawab perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah pekerjaan yang kita lakukan saat ini memang seirama dengan keinginan kita atau sekedar pemenuhan kebutuhan hidup semata. Ironis memang banyak orang terpaksa mengubur keinginan mereka karena terdesak oleh keadaan. Lihat saja mereka yang baru menyelesaikan studinya di bangku kuliah berlomba-lomba dan berkompetisi dengan yang lain untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan idaman. Mereka yang gagal, akhirnya mencari perusahaan lain, bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengajukan lamaran ke perusahaan manapun untuk posisi apapun. Apapun pekerjaannya, yang penting kerja. Begitulah kira-kira ungkapan sebagian dari mereka.

Sebagian lainnya yang merasa biasa-biasa saja mungkin membutuhkan motivasi lebih agar dapat menunjukkan kinerja yang lebih baik pula. Jangan sia-siakan kemampuan kita. Kita memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa dalam diri kita. Lakukan sesuatu yang lebih hari ini yang berbeda dari orang lain pada umumnya. Tambahkan nilai pada apa yang kita kerjakan. Jangan bertanya apa yang akan kita dapatkan. Jangan berorientasi pada imbalan. Remember, you just wanna do something great!

Bila sebaliknya, saat ini kita sudah melakukan hal yang kita senangi, lakukanlah dengan penuh sukacita. Dengan demikian, antusiasme akan terpancar dalam diri kita dan semakin banyak orang yang akan belajar dari sikap dan perilaku kita yang positif. You'll make an impact this way, surely positive!

By: Men Jung

Read More...

Persembahan Buat Tuhan

"I hate this job. I hate this job. "
Nggak tahu deh, udah berapa kali kalimat ini terus menerus aku ulang-ulang dalam hati. Rasanya kekesalan demi kekesalan semakin bertumpuk dalam hati. Dan yang lebih ngeselin lagi, semakin aku kesal, semakin semua pekerjaan ini terasa berat.

Benciiii!!!!! Benciiii!!!! Apalagi yang harus dikatakan supaya bisa lebih lega.

Ternyata apapun yang aku katakan bukannya bikin lega, tapi malah bikin sumpek. Gimana nggak ???
Hari pertama masuk kantor, nggak ada yang tersenyum, nggak ada yang menyapa apalagi ngajak ngobrol (dan ternyata setelah beberapa hari kerja, aku baru tahu kalau katanya ada juklak yang mengatur bahwa karyawan dilarang ngobrol waktu jam kerja, ajaib!!), semua berwajah serius. Satu-satunya yang melegakan hati hanya seorang teman baru yang sama-sama baru diterima di kantor. Oke deh, lupakan hari pertama. Dimana-mana juga biasanya orang kalo hari pertama kerja memang unforgettable. Waktu itu aku cuma berharap semoga esoknya nggak akan seburuk itu.

But,....ternyata tidak! "Christy, buat laporan ini ! laporan itu. Semua harus selesai dalam 1 jam!
Ingat ya, setiap tugas dari saya, apapun itu harus selesai dalam 1 x 24 jam !!"
"Christy! Kalau telponnya bunyi, jangan sampai kring lebih dari dua kali! Harus sudah kamu angkat!" Fiuhh ? galak amat. Memang sih ngomongnya sambil senyum (hambar), tapi dalem boo... "Wah, saya nggak tahu data itu ada dimana. Tanya aja sama yang lain".
"Lho, itu kan yang tahu orang cabang Balik papan atau Banjarmasin kejar aja kesana". Gile benerrr. Untuk minta data aja susahnya minta ampun. Gimana bisa bikin laporan. Aku bener-bener nggak ngerti kenapa suasana kantor bisa seperti ini. Orang-orangnya susah diajak kerja sama, self defense tinggi, gampang saling menyalahkan, wah bener-bener lingkungan kerja yang tidak nyaman.

Ini yang salah apanya ya ? SDM-nya kah? Management-nya kah?Lingkungannya? Jenis pekerjaannya kah ? Atau apanya? Kayaknya semakin hari bukannya semakin baik, tapi malah semakin buruk. Tiap hari ada saja hal-hal 'mengagumkan' yang kutemukan. Pulang jam setengah enam merupakan hal 'aneh' (padahal jam kerja hanya sampai jam 5), katanya ada perhitungan lembur, tapi kalau hanya sampai jam setengah delapan istilahnya itu kan masih sore, masak mau ngurus surat lembur. Sabtu Minggu katanya libur, tapi kebanyakan dipakai untuk lembur. Uang lembur nggak jelas kapan keluarnya, katanya sih sekitar 3-4 bulan kemudian. Satu hal yang paling nggak 'sreg' di hatiku, setiap kali meeting pasti memakan waktu lama. Dan lamanya itu bukan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada, tapi selalu mencari 'siapa yang salah'. Pokoknya, pada saat meeting, jangan sampai kita salah menyebut nama orang lain.
Siapapun itu pasti langsung dipanggil menghadap saat itu juga. Jadi, sering kali waktu terbuang percuma hanya untuk mendengarkan pembelaan diri dan ucapan-ucapan yang saling menyalahkan, dan ujung-ujungnya... tidak ada solusi. Jadi kebayang, seandainya waktu itu ada yang minta aku untuk buat list 'Ten things you hate about your company' mungkin aku bisa bikin sampai 100.

Pokoknya the point is : I hate this job! Wake up girl ? ! You pray for this job, remember!! Iya sih. Memang betul. Tapi keadaan ini bener-bener bikin aku tertekan. Aku ingat komitmen-ku pada Tuhan. Apapun itu Tuhan, bagaimanapun kehidupan yang harus kujalani, selama itu membuat aku semakin dekat denganMu, aku akan menjalaninya dengan sukacita. Tapi kalau seperti ini? Setiap pulang, sampai rumah aku sudah 'terlalu capek' untuk berdoa dan membaca firman. Saat teduhku jadi super bolong bolong. Kalau di rumah, bawaannya marah melulu. Kenapa rasanya nggak ada yang ngerti. "There's gotta be something more than this". Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telingaku.

Masak sih, aku harus hidup kayak gini terus. Tuhan, kenapa sih Engkau menempatkan aku di tempat seperti ini? Pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikanku, suasana kerja yang nggak enak, tempat kerja yang jauh, waktu kerja yang nggak jelas. Aduhhh ? kenapa Tuhan ?
Rasanya setiap hari yang ada hanya keluhan.

Di tengah-tengah kejenuhan yang sudah memuncak, satu hari Tuhan menegurku dengan suatu nyanyian yang sudah 'terlalu sering' dinyanyikan sehingga kadang-kadang kita lupa 'mendengarkan' dengan sungguh-sungguh.

Hitung berkat satu per satu
Kau kan kagum oleh kasihNya
Berkat Tuhan mari hitunglah
Kau niscaya kagum oleh kasihNya Aku tersentak.

Memang benar, there's gotta be something more than this. Hidup nggak boleh begini terus. Tapi hidup nggak akan berubah kalau aku sendiri nggak merubah cara pandangku. So, aku mulai menghitung berkatku. Hari pertama kerja. Seorang satpam menyapa ramah, "Hari ini udah mulai masuk ya mbak".
Seorang office boy tersenyum, "Wah, mbak iki ayu rek .."
Aku mendapatkan seorang sahabat baru, bisa berbagi suka duka dan saling menguatkan.
Di antara Operational Director dan Deputy Director yang menjadi atasan langsungku, walaupun yang satu galak dan tidak pernah puas, tapi yang satu ramah dan baik dan selalu memberikan penghargaan untuk setiap pekerjaan yang berhasil aku selesaikan dengan baik. Dan aku terus menghitung, setiap senyuman adalah berkat, setiap pujian adalah sukacita, setiap tugas dan pekerjaan adalah kepercayaan. I have to change. Setiap pagi aku tersenyum pada setiap orang yang kutemui. Kuucapkan selamat pagi dengan senyuman (walaupun sering kali tidak ada balasan), setidaknya seorang sahabat pasti selalu membalas. Dan, hei ? rasanya banyak yang berubah.

Memang benar bahwa hidup ini merupakan suatu chain reaction. Dan di tengah-tengah suasana kerja yang kurang nyaman itu mulai tumbuh bunga-bunga persahabatan. Memang kita tak dapat merubah seluruh dunia hanya dalam sekejap. Tapi setiap perubahan ke arah yang lebih baik adalah berkat. Rekan-rekan kerja mulai lebih terbuka dan saling membantu dalam pekerjaan. Syukur atas talenta yang diberikan Tuhan, aku memang punya sedikit kemampuan lebih di bidang komputer sehingga banyak rekan-rekan yang sering bertanya. Dari saling membantu itulah akhirnya suasana kerja yang kaku mulai cair.

Dan betapa bahagianya ketika suatu hari kemudian Tuhan menyapaku lembut,
"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga"
(Matius 5 : 16)

Namun tak bisa dipungkiri, sistem perusahaan yang begitu menekan tetap mendorongku untuk berusaha mencari pekerjaan lain. Hanya dalam waktu 3 bulan, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari perusahaan lain, dan hanya dengan satu kali test, mereka memutuskan untuk menerima aku. Sungguh-sungguh suatu berkat yang tak terduga. Apalagi di kantor baru tersebut aku ditempatkan di bagian IT Support & Multimedia, yang memang lebih sesuai dengan bidang pendidikanku. Ketika aku mengajukan pengunduran diri, salah satu bosku yang sudah merasa cocok denganku berusaha mempertahanku. Namun dengan tekad yang sudah bulat aku memutuskan untuk tetap memilih perusahaan baru walaupun perusahaan tersebut jauh lebih kecil daripada perusahaan tempat aku bekerja saat itu. Dan untuk menunjukkan niat baikku, selama dua minggu terakhir, aku berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Lembur tanpa mengurus surat lembur. Aku ingin melakukan yang terbaik. Yang terbaik yang dapat aku berikan.

Sampai tibalah hari terakhir aku bekerja, aku mendapat informasi bahwa Berita Acara Serah Terima pekerjaanku belum ditandatangani oleh sang boss, baru ditandatangani 2/4 minggu kemudian, dan setelah itu baru aku bisa menerima ijazah dan gajiku.
Ada perasaan marah ketika menyadari bahwa ternyata semua kerja kerasku tidak berarti apa-apa. Tapi Tuhan memang baik sekali.

Dia tidak memperbolehkan kemarahanku merusak pekerjaan terbaik yang telah kupersembahkan. Aku telah melakukan yang terbaik karena Tuhan sendiri yang telah memampukanku, jadi kalaupun ternyata ada beberapa orang yang tak dapat menghargainya, kenapa aku harus berkecil hati? Aku melakukannya karena Tuhan, bersama Tuhan dan untuk Tuhan. Dan untuk itu Ia telah menyediakan hadiah yang jauh lebih indah. Berkat-berkat yang menyirami hati.
Di hari terakhir itu; Seorang sahabat memelukku. Seorang rekan kerja memutar lagu kesayanganku sepanjang hari. Seorang lagi membuat sketsa wajahku. Aku menerima banyak ucapan terima kasih dari rekan-rekan kerja bahkan dari departemen lain.
Dan seorang office boy menangis menyalamiku sambil berkata,"Mbak, terima kasih ya karena selalu tersenyum kalau ketemu saya ?"
Dan ketika seorang ibu deputy director dari departemen lain (yang sehari-harinya terkenal judes, but somehow aku yakin hatinya penuh kasih) memeluk dan menciumku sambil mengucapkan doa dan berkat buatku, dalam hatiku aku memperbaharui kembali janjiku pada Tuhan.

Bapa, dimanapun aku Kau tempatkan,
apapun pekerjaanku,
selama itu membuatku lebih dekat denganMu dan menyenangkan hatiMu,
aku akan melakukannya dengan segenap hatiku dan dengan segenap kemampuanku,
sebagai persembahanku untukMu.

Memang kita tidak dapat merubah segalanya. Tapi jika kita menyadari bahwa setiap tanggung jawab yang diletakkan di tangan kita adalah suatu pekerjaan buat Tuhan, maka sudah sepantasnyalah kita melakukan yang terbaik.

So guys,
kalau saat ini kamu merasa Pekerjaanmu tidak terlalu berarti?
Lingkungan kerjamu benar-benar tidak nyaman?
Perusahaan berlaku tidak adil padamu?
Rekan-rekan kerjamu saling menjatuhkan?
Kerja kerasmu sia-sia ? Jangan pernah berkecil hati. Selama engkau sungguh-sungguh menyadari bahwa engkau telah memberikan yang terbaik, engkau telah berlaku jujur dan setia dalam pekerjaanmu, ingatlah, Bapamu di surga selalu memperhatikan engkau. Dan Ia tersenyum padamu.

"Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia".
I Korintus 15:58b.

Karena itu, marilah kita mulai pekerjaan kita hari ini dengan senyuman dan sukacita di hati, sehingga di akhir hari kita dapat menjawab pertanyaan seperti yang tertuang dalam sebuah kidung, "Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Tuhanku ?"

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia".
Kolose 3 : 23

Oleh: Angela Christy

Read More...

Garam Dalam Gelas Dan Dalam Telaga

Hidup tidak lepas dari masalah. Namun cara berpikir kita untuk menerima masalahlah yang membuat perbedaan. Seperti kisah bernilai dari garam dan telaga.

Pada suatu hari datang seorang anak muda yang tengah dirundung banyak masalah pada seorang kakek bijak. Langkahnya gontai dan air muka yang muram. Tamu itu tampak sebagai seorang yang tidak bahagia.

Kala menceritakan semua masalahnya, pak tua bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Setelah itu ia mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam tersebut kegelas air dan diaduknya perlahan. Pak tua meminta anak muda meminumnya : “Coba minum air ini dan katakan bagaimana rasanya…”

“Asin. Asin sekali!”, jawab anak muda itu sambil memuntahkan air asin dari gelas itu”.

Pak tua hanya tersenyum. Ia lalu mengajak anak muda itu berjalan ke tepi telaga di hutan dekat tempat tinggalnya. Sesampainya di telaga, pak tua kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang untuk mengaduk-aduk air telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat anak muda itu selesai mereguk air itu, pak tua bertanya kembali : “Sekarang bagaimana rasanya?”.

“Segar”, sahut anak muda itu. “Apakah kamu merasakan garam dalam air telaga itu?” tanya pak tua lagi. Anak muda ini menjawab : “Tidak”.

Dengan bijak orang tua berkata : “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang banyaknya. Jumlah dan rasa asin itu adalah sama antara yang ada dalam gelas dan yang ditabur dalam telaga”.

“Tetapi kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari tempat dimana kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semua itu. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak tua itu kembali memberikan nasehatnya. “Hatimu adalah wadahmu. Perasaanmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. (Kolose 1:9-12)

Sumber: Motivational Book

Read More...
|
Quote of the Day